Sneak Preview unTouchable Episode 121 Bahasa Indonesia








Untuk melihat gambar-gambarnya, kamu bisa buka langsung Episode 121 dari Naver Webtoon Korea di sini.

Belum baca text terjemahan episode sebelumnya? Cek di sini.

Gambar tidak disertakan karena dibatasi kontrak dengan pengarang.

BACA JUGA UNTOUCHABLE BAHASA INDONESIA (VERSI SUDAH BERGAMBAR)
YANG TERSEDIA DI SINI

JANGAN MENERUSKAN JIKA TIDAK INGIN SPOILER.

—– EPISODE 121 —-

Jiho mendengar suara datang dari apartemen di sebelahnya, dia mengira itu Sia. Namun ternyata yang berada di situ adalah Moran, kakak Sia. Dan dia berkata pada Jiho:

Moran: “….. Jiho….”

“Sia, dia tidak akan kembali ke sini lagi…”


Jiho: “Kak Moran bilang apa….? Kenapa Sia bisa….?”

Moran: “Hari ini aku ke sini mau mengambil barang-barangnya, kontrak kamar apartemen ini juga sudah habis.”

“Jadi, Sia sudah tidak akan kembali ke sini lagi.”

Jiho: “Tapi kenapa…? Sebenarnya ada apa…? Kenapa Sia tiba-tiba jadi begini? Ada apa dengan Sia?”

“Apakah… ini gara-gara aku?”

“Sia…. Sekarang dia ada di mana?”

“Aku ingin bertemu dengannya, ada banyak yang ingin kutanyakan—…!!!”

Moran: “….Jiho”

Moran menyela…



“Sia…. jangan kamu cari-cari dia lagi.”






unTouchable Episode 121
Jangan Cari Aku

Moran: “Jangan kamu cari-cari dia lagi.”

“Semakin dia kamu cari, kamulah yang semakin sedih.”

“Yang namanya pacaran itu sudah lazim kan?”

“Saling kangen, saling cinta, tapi juga tiba-tiba putus.”

“Begitulah kehidupan. Kalau ada yang pertama, pasti ada yang kedua. Begitu pula yang selanjutnya. Pasti ada yang berikutnya lagi.”

“Meskipun kamu merasa kamu dan dia sudah berjanji untuk bersama terus selamanya.”

“Tetapi di ambang putus, semua janji itu tidak akan bisa mencegahnya”

“Begitulah yang disebut berpisah”

“Jiho. Kamu merasa lebih berat karena ini baru pengalamanmu yang pertama…”

“Cobalah menahan sakitmu itu, nanti semuanya akan baik sendiri setelah bertemu seseorang yang baru lagi.“



Jiho: “Mana bisa begitu!!!!!!”

Jiho berteriak

lalu mencengkeram sedikit pundak Moran


Jiho: “Mana bisa kak Moran bilang begitu? Bukannya kak Moran sendiri yang lebih mengerti artinya Sia bagiku?”

“Aku ingin bertemu dengan Sia!”

“Dia ada di mana sekarang? Dia ada di mana?!”

“Bagiku… Sia adalah segala-galanya!”

Kata Jiho hampir putus asa.


“Tolonglah… biarkanlah satu kali saja…!”

Moran: “Jiho… tolong jangan begini.”

“Sia sendiri juga kesulitan…”

“merelakan kamu dan melepaskan kamu…”

“bagi Sia, kamu juga seseorang yang sangat besar sekali keberadaannya.”

Jiho terdiam mendengarnya


“Tolonglah, terimalah saja….”


Jiho: “…Tidak…. aku tidak bisa menerimanya.”

“…Dia bilang kalau dia itu vampir.”


Moran: “!!!!!”

Moran terkejut



Jiho: “Dia bilang kalau dia itu vampir, jadi sangat berbahaya kalau dia berada di dekatku.”

“Dia bilang kalau itulah… alasan kenapa kami harus putus.”

“Mana bisa aku terima semuanya ini…?!!!!”


Moran: “….Jiho…. Soal itu….”

“Entah kamu percaya atau tidak, itu terserah kamu.”

“Yang penting saat ini kalian berdua sudah putus.”

“Itu saja.”

“Jadi, tolong jangan cari dia lagi.”


Di bawah kompleks apartemen itu, terparkir sebuah mobil sedan. Sia duduk di kursi penumpang depan mobil itu. Tidak lama kemudian Moran datang masuk dan berbicara dengannya.


Moran: “Yang kubawa turun cuma yang penting-penting dulu saja.”

“Yang lainnya nanti kita serahkan saja ke jasa pemindahan rumah.”

“… kita langsung berangkat saja, yah”

Sia hanya diam saja tertunduk.


“… semuanya sudah berakhir…”



“sudah berakhir…”
















Sementara itu, di dalam apartemennya, Jiho masih kepikiran terus. Dia bicara sendiri di dalam hatinya:

Jiho: “Padahal sampai sekarang, aku sudah menunggu-nunggu”

“Sejak awal bertemu hingga sekarang, aku selalu….”

“menanti-nantikan Sia, sama seperti saat ini…”

“Sia, sejak dulu dialah yang mendekatiku duluan”

“Selalu tersenyum duluan berjalan ke arahku.”

Jiho membayangkan senyuman Sia

“Kalau seandainya dia ingin sembunyi dariku… kurasa pasti bisa kucaritahu dari tempat itu.”

“Kali ini… aku…. aku akan mencari Sia!”

Jiho memantapkan hatinya.
























Di studio tempat Sia bekerja. Teman perempuannya (manajer?) yang berambut merah kesulitan menghubungi Sia. “Duh, kok Sia nggak bisa dihubungin sih!?”

Dia heran ada apa yang terjadi dengannya. Lalu ada pekerja lain di situ (cewek berambut coklat) bilang padanya kalau dia tadi dihubungi Moran. Dia bilang Sia tidak bisa dihubungi karena ada sedikit urusan, jadi kalau ada apa-apa, hubungi kakaknya saja.

Manajer Sia: “Hah? Memangnya ada urusan apaan yah?”


Tanggapnya keheranan.


Di tempat itu juga ada Mr. Choi Jun Hyeok yang sebenarnya datang untuk memberikan majalahnya kepada Sia.

“Maaf ya pak Choi Jun Hyeok, sepertinya malam ini kita tidak bisa keluar bersama-sama makan malam dengan Sia.”

Mr. Choi: “Tidak apa-apa, ini gara-gara saya saja yang tiba-tiba datang.”


Teman Sia: “Majalah dari bapak ini nanti bisa saya berikan ke nona Sia. Dia pasti senang sekali karena jadi model edisi sampul perdananya.”

“Oya! Beberapa hari lagi nanti kan ada rapat. Saat itu bapak bisa menemui dia. Soalnya dia mau ke Italia buat foto poster UX.”


Mr. Choi: “Baiklah, sampai ketemu”






Sewaktu menekan tombol lift hendak turun dari kantor studio itu, tiba-tiba Mr. Choi melihat Jiho memakai mantel coklat keluar dari pintu sebelah. Jiho buru-buru menemui resepsionisnya.


Resepsionis: “Eh? Lee Sia?”

Jiho: “Iya, benar. Dia salah satu model di sini… Apa boleh tahu dia ada di mana sekarang?”

“Saat ini saya ada keperluan penting sama dia, tapi nggak bisa menghubunginya. Dan saya harus bertemu dia…”

Resepsionis: “Anu… bapak ini siapa ya? Kenapa tiba-tiba datang cari nona Sia….?”

Kata resepsionisnya yang ragu-ragu dan mengira Jiho seorang stalker. Tidak lama kemudian manajer Sia berambut merah itu melewati meja resepsionis dan melihat Jiho.

Manajer Sia: “Eh? Kamu… jangan-jangan yang dulu pernah ikut sesi foto di sini ya?”

“Wah lama nggak ketemu. Apa kabar?”



Jiho: “Saya baik-baik saja… anu….”


Manajer Sia: “Kok tiba-tiba kamu cari Sia?”


Jiho: “Saya ada keperluan bicara dengannya, tapi nggak bisa menghubungi dia…”


“Sebenarnya… saya ini pacarnya…”


Manajer Sia: “Wah, tapi maaf yah. Saat ini kami sendiri juga nggak tahu dia ada di mana.”

“Dia cuma bilang kalau ada keperluan, cukup hubungi keluarganya saja.”


Jiho: “Kalau begitu, jika nanti bisa menghubungi dia, tolong beri saya kabar.”


Manajer Sia: “Baiklah. Aku baru tahu lho kalau ternyata kalian pacaran.”

“Oiya! Kalau begitu kamu bawa majalah ini juga ya.”

“Sia jadi model sampul perdana majalah modelling ini lho, ini masih edisi contoh yang barusan dicetak.”


Raut muka Jiho agak sedih melihat sampul majalah Style On Cut itu, terlihat foto wanita yang sangat dikenalnya.


Jiho: “….. Sia…..”







Mr. Choi: “Tak kusangka kita bertemu di tempat ini.”


Mr. Choi menghampiri Jiho.

“Apa kabar? Lama tidak bertemu”


Jiho: “Ah… tn. Jun Hyeok… kenapa bisa ada di….”


Mr. Choi: “Tadi aku ke sini ada urusan. Majalah yang kamu bawa itu, edisi terbitannya kantorku.”


Jiho: “Ah iya… kamu pernah bilang kalau bekerjasama dengan Sia…”



Mr. Choi: “Benar…”


“Tapi aku yakin… tujuanmu ke sini bukan demi mengambil majalah itu…”


“Jadi… apa sebenarnya tujuanmu ke sini…?”















—– TO BE CONTINUED —-

SUMBER TEKS BERASAL DARI UNTOUCHABLE LINE WEBTOON BAHASA MANDARIN DAN KOREA. NARASI KAMI TAMBAHKAN SENDIRI UNTUK MEMPERMUDAH MEMBAYANGKAN TANPA MELIHAT GAMBARNYA. HASIL AKHIR PADA KOMIK BISA JADI ADA PERBEDAAN KARENA AKAN MENGALAMI PENYESUAIAN BEGITU VERSI INGGRISNYA KELUAR.

Check Also

Samsung Kembangkan Sensor Smartphone 576 Megapiksel pada 2025

Kepoin News – Setelah meluncurkan sensor smartphone ISOCELL HP1 200 megapiksel yang baru saja diluncurkan, …

Leave a Reply

Your email address will not be published.