Sneak Preview unTouchable Episode 120 Bahasa Indonesia








Untuk melihat gambar-gambarnya, kamu bisa buka langsung Episode 120 dari Naver Webtoon Korea di sini.

Belum baca text terjemahan episode sebelumnya? Cek di sini.

Gambar tidak disertakan karena dibatasi kontrak dengan pengarang.

BACA JUGA UNTOUCHABLE BAHASA INDONESIA (VERSI SUDAH BERGAMBAR)
YANG TERSEDIA DI SINI

JANGAN MENERUSKAN JIKA TIDAK INGIN SPOILER.

—– EPISODE 120 —-

Malam harinya, Jiho berada di luar pintu apartemen Sia.
Jiho: “Sia… Ayo kita bicarakan dulu.”

“Aku… aku benar-benar nggak mengerti situasi kita saat ini.”

“Kenapa kita harus putus?”

“Semua yang kamu katakan, aku tidak mengerti.”

“Tolonglah, pikirkan baik-baik dulu, karena aku tidak mungkin…”

“aku tidak akan mungkin sanggup tidak bertemu kamu lagi…”

Tetapi tidak ada jawaban dari balik pintu itu.


“Sia… apa kamu di dalam?”

“tolonglah… bukakan pintunya…”






“…Sia……”












unTouchable Episode 120
Tak Dapat Berlanjut

DRRRT. Suara HP Sia bergetar karena tidak kunjung diangkat. Sudah 17 missed call datang dari Jiho. Moran, kakak Sia yang berada di situ melihatnya dan tidak berkata apa-apa. Dia melihat adiknya yang lemas berlutut dan sesenggukan di samping ranjang.

Moran: “Sia… sudahlah… jangan menangis lagi.”

“Kalau kamu terus-terusan begini, bisa-bisa kamu nanti pingsan…”


Sia: “Hiks… hiks… kak… aku… sudah bilang sama Jiho…”

“aku sudah bilang… kalau aku minta putus… nggak akan ketemu dia lagi…”


Moran: “Sia……”


Sia: “Jiho….. Jiho bilang kalau dia cinta sama aku…”

“dia cinta sama aku…”

“Jadi dia nggak mau lepasin aku… tapi…

“akulah yang mendorong dia pergi…      aku…”

“aku…”


Moran: “Sia, tenangkan dulu dirimu… oke?”

Moran mengangkat adiknya berdiri dan berusaha menenangkannya, tapi air mata Sia makin deras.

Sia: “Kak, aku sudah nyakitin hatinya Jiho. Sekarang harus gimana?”

“Jiho pasti bener-bener patah hati… dia pasti benar-benar sedih…”

“tapi kalau aku yang ada di sampingnya… dia bisa dalam bahaya…”

“aku…”

“aku harus gimana kak?”

“hatiku benar-benar hancur…”

“benar-benar sangat hancur….”



Moran: “Sia, kamu baik-baik saja. Inilah jalan yang baik buat kalian berdua.”


Kata Moran sambil memeluk adiknya yang sangat memerlukan sandaran itu.


Moran: “Justru kakak yang harus minta maaf sama kamu. Maafin kakak ya, Sia. Kakaklah yang terlalu lama membiarkan kalian keterusan pacaran…”

“Kalau saja waktu itu kamu sudah kakak beritahu duluan…….”

“maafkan kakak ya, Sia…”

“semuanya pasti baik-baik saja seiring waktu.”

“mari kita lupakan saja semuanya ya, Sia…”



Tidak bisa berkata apa-apa, Sia hanya menangis di pundak kakaknya.


Moran: “Kita anggap saja semua ini nggak pernah terjadi….”

“… lupakan saja semuanya, ya… jangan diingat-ingat lagi…”

“Sama seperti dulu sewaktu kamu kecil, kalau sudah tidak luka hatimu, kamu tidak akan sakit lagi…”

“Anggaplah semuanya ini hanya mimpi buruk yang singkat…”



“Mari kita ulangi semuanya dengan lebih baik…….”

























Hari berganti pagi.

Jiho yang masih duduk di bangku sebuah taman, tiba-tiba dipanggil oleh seseorang

“Jihoooo….”


“Jiho, ngapain kamu sendirian di situ?”


Jiho: “…..!!!!”



“…Sia…?”




Rupanya Sia yang memanggilnya. Sambil mengenakan gaun putih, wajah Sia berseri-seri penuh senyum.


Sia: “Kamu kenapa? Kok bengong gitu sih? Kaya habis ngeliat hantu aja.”

Sia merangkul Jiho dari belakang.


Jiho: “Ah… aku…”


Sia: “Kamu lagi ngapain sih? Wah, lagi-lagi baca buku.”

“Buku ini memang seru ya?”

“Harusnya melihat aku dong. Sudah punya pacar yang cantik kaya aku begini, masa masih lihat buku terus?

Kata Sia sambil tersenyum lebar dan merangkul Jiho.


Setelah berpikir sejenak, Jiho juga tersenyum.

Jiho: “… iya, benar juga…”

“Aku pernah bermimpi, di mimpi itu kita putus dan kamu menjauhiku…

“Jadi mimpi itu benar-benar membuatku sedih…”

Sia: “Apaan tuh? Itu mimpi yang sangat mustahil!”

“Mana mungkin aku tinggalin kamu, Jiho?”

Jiho: “… iya Sia, kamu benar…”

“kamu selalu berada di sisiku…”

Sia: “Tul kan? Itu sudah pasti.”

“selamanya aku akan ada bersama kamu.”

“sejak sekarang…”




“sampai selama-lamanya….”






Kata-kata Sia bergema-gema, tiba-tiba semuanya jadi silau dan bercahaya putih.

Rupanya hari sudah pagi, dan perjumpaan Jiho dengan Sia hanyalah sebuah mimpi.



“Andaikan saja kehidupan nyata ini seindah mimpi itu”, kata Jiho dalam hati.

“Karena begitu kubuka mataku, yang ada hanya luka hati tiada taranya, yang sangat sulit untuk ditahan.”

“kenyataanku yang bagai neraka ini, aku tidak sanggup menerimanya.”

“Sudah tiga hari sejak saat itu. Hari berganti hari, tetap berjalan seperti biasa.”

“Sama sekali tidak ada kabar yang kuterima dari Sia”

“Setiap kali kuhubungi hp-nya, yang ada hanya ‘nomor yang Anda panggil tidak dapat dihubungi’

“dan juga SMS yang tidak pernah delivered”

“semua ini bagaikan berkata kepadaku, kalau dia sudah pergi entah ke mana”

“hidupku yang hancur seketika bagai dilanda kecelakaan ini, selamanya akan meninggalkan bekas yang tak dapat ditutup.”

“aku tidak sanggup, kalau selamanya tak dapat bertemu dia”



“Sia…”

“saat ini… aku benar-benar bingung tidak tahu harus bagaimana jika tidak ada kamu di sisiku…”

“aku benar-benar berharap kamu akan kembali padaku sambil berkata kalau semua ini hanya main-main saja…”

“karena aku tak peduli, meski kamu bilang benci padaku, atau kamu melukai hatiku…”

“aku tidak akan memedulikan semua itu…”

“karena yang kuinginkan… cuma ada kamu di sisiku.”

Jiho pun lemas sambil memegangi kepalanya.



“aku benar-benar takut….”

“aku rindu kamu, Sia…”


“aku benar-benar rindu kamu.”

Jiho akhirnya lemas tertunduk.






DUK! Tiba-tiba terdengar suara dari ruangan di samping. Rupanya itu dari apartemen Sia. Jiho langsung terbangun mendengarnya.

Jiho: “Sia….?!”

Dengan bergegas, dia pergi keluar.


“Sia…!!!!”



“Sia, tolong kita bicarakan sebentar…….”

Suaranya makin mengecil, karena setelah keluar dan membuka pintu, ternyata yang ada di pintu ruangan sebelahnya adalah Moran, kakak Sia.



Moran: “….. Jiho, lama tidak bertemu.”

“Aku tahu kondisimu, jadi aku tidak akan menanyakan keadaan kabarmu.”


Jiho: “….Sia… di mana dia?”

“Dia ada di mana? Kenapa dia tidak menjawab telepon dariku sama sekali…”


“aku mau bertemu dia, aku ingin bicara dengan dia…”


Moran: “….. Jiho….”




“Sia…”



“dia sudah tidak kembali ke sini lagi…”













—– TO BE CONTINUED —-

SUMBER TEKS BERASAL DARI UNTOUCHABLE LINE WEBTOON BAHASA MANDARIN DAN KOREA. NARASI KAMI TAMBAHKAN SENDIRI UNTUK MEMPERMUDAH MEMBAYANGKAN TANPA MELIHAT GAMBARNYA. HASIL AKHIR PADA KOMIK BISA JADI ADA PERBEDAAN KARENA AKAN MENGALAMI PENYESUAIAN BEGITU VERSI INGGRISNYA KELUAR.

Check Also

Samsung Kembangkan Sensor Smartphone 576 Megapiksel pada 2025

Kepoin News – Setelah meluncurkan sensor smartphone ISOCELL HP1 200 megapiksel yang baru saja diluncurkan, …

Leave a Reply

Your email address will not be published.