Sneak Preview unTouchable Episode 115 Bahasa Indonesia








Untuk melihat gambar-gambarnya, kamu bisa buka langsung Episode 115 dari Naver Webtoon Korea di sini.

Belum baca teks terjemahan episode sebelumnya? Cek di sini.

Gambar tidak disertakan karena dibatasi kontrak dengan pengarang.

BACA JUGA UNTOUCHABLE BAHASA INDONESIA (VERSI SUDAH BERGAMBAR)
YANG TERSEDIA DI SINI

JANGAN MENERUSKAN JIKA TIDAK INGIN SPOILER.

—– EPISODE 115 —-

Setelah perjalanan dari rumah, Moran kembali sampai di rumah kantornya. Sepanjang jalan dia berusaha menghubungi Sia, tetapi panggilan itu tidak juga dijawab. Sambil cemas dia berjalan kaki menuju pintu rumahnya, rupanya di depan pintu itu terduduk lemas sosok yang dicari-carinya.

Moran: “Sia, kamu kenapa ada di sini? Dihubungi juga nggak dijawab-jawab! Semuanya khawatir mencari-cari kamu. Ayo masuk dulu… di luar dingin.”

Sia: “Kakak…

“Apa aku… pernah bikin manusia mati?”

“Hari itu… di air terjun itu… gara-gara aku… gara-gara aku… gadis kecil itu…


Moran: “Sia….. ingatanmu…?”


Sia: “Kenapa kakak tidak pernah bilang padaku?

“Kenapa tidak pernah bilang.. kalau aku bisa bikin manusia mati…?”

unTouchable Episode 115
Sekarang Aku Harus Bagaimana?











Di kediaman Lee, ayah Sia masih menjelaskan tentang keberadaan Sia pada Ragi.

Ragi: “Apa kata ayah? Kak Sia bisa bunuh manusia?”

Ayah Sia: “Para vampir dalam hidupnya mengalami banyak perubahan demi hidup berdampingan dengan manusia, Itu sebabnya kita bisa menghisap energi yang kita butuhkan saja. Tetapi….”


“Ada sejumlah kecil vampir yang masih bisa menghisap energi dari darah. Mereka masih memiliki kekuatan aslinya… Dan sanggup menghisap energi tanpa henti sampai habis tak bersisa.”


“Hanya vampir-vampir jenis terkuat sajalah yang bisa melakukan itu…”


“Termasuk Sia…”


Ragi: “Lalu kenapa ayah tidak pernah bilang? Bukannya lebih baik kak Sia tahu soal ini? Apalagi kalau sangat berbahaya seperti itu!”



Ayah Sia: “Kita semua tidak berani bilang padanya. Bukan, lebih tepatnya bisa dibilang Sia sama sekali tidak boleh tahu soal ini.”


“Karena… semua ini demi Sia sendiri.”

Kembali ke Moran dan Sia…

Sia: “Selama ini aku selalu merasa ada yang aneh. Kenapa kak Moran dan ayah sekeras itu padaku.”

“Rupanya… itulah alasannya. Rupanya semuanya sudah tahu! Kalau aku ini nggak sama…”

“Tapi nggak ada yang mau bilang sama aku, cuma aku saja yang nggak tahu apa-apa!”


Moran: “Sia….. Kita sekeluarga juga nggak tahu harus berbuat apa.”



Sia: “Nggak tahu harus berbuat apa?!!!!”

“Bukannya kalian semua punya ribuan kesempatan buat bilang sama aku?!”

“Terutama kakak!!!”


“Bukannya kita ini satu keluarga? Terus kenapa berbuat begini terhadap aku?! Sampai sepuluh tahun lebih, kalian semua sudah bohong sama aku!!!!”


Moran: “Sia….. Bukan begitu!! Ini sama sekali bukan seperti itu!!”

“Semua ini justru demi melindungi kamu!!!!”


“Mau bilang sama kamu pun kita juga nggak bisa!!! Soalnya kalau sampai kamu ingat lagi soal hari itu, semuanya bisa berbahaya!! Jadi kita semua nggak ingin sampai kamu ingat lagi soal hari itu!!!!”



Sia: “a…. apa maksud kakak?”


Moran: “Kejadian hari itu… bukannya selesai di tempat itu!”

“Waktu itu… kakak sendiri juga masih kecil, jadi belum pintar bicara sama kamu”





Rupanya sewaktu kecilnya, Moran cilik memarah-marahi Sia kecil.

Moran kecil: “Dasar anak bego! Kamu tahu nggak sih sama perbuatanmu?! Sudah berapa kali kakak bilang sama kamu kalau nggak boleh sentuhan sama manusia, ha?!!!”

“Semuanya terjadi gara-gara kamu!!!!!”


Sia kecil syok lalu menangis: “B…bukan aku….

“Aku kan nggak sengaja…..”

“Apa semuanya…. terjadi gara-gara aku?”

Waktu itu, para dokter tidak berhasil mengetahui penyebab kritisnya jiwa Yoon Seo karena tidak ada bekas luka di tubuhnya. Sewaktu Sia kecil datang menjenguk temannya yang kritis itu, ibu Yoon Seo selalu menanyai Sia apa yang terjadi pada anaknya itu, sambil menangis dan memohon-mohon, dia menanyai Sia terus.

Melihat sang ibu yang jatuh berlutut lemas di depan matanya, Sia kecil semakin menyalahkan dirinya, “Semuanya gara-gara aku”, pikirnya sambil berteriak keras-keras,

Sekembalinya di rumah, Sia kecil pun depresi. Sambil menangis-nangis berlutut di ranjangnya, dia tidak mau menyentuh manusia lagi. “Aku nggak mau sentuh manusia lagi… manusia bisa mati gara-gara aku, terus aku harus gimana?”

“Kenapa aku dilahirin jadi vampir???!!!”

Setelah itu, Sia kecil pun mengalami koma karena sama sekali tidak mau menghisap energi manusia. Kondisinya pun kritis.

Melihat adik kecilnya yang tergeletak lemas di atas ranjang, Moran pun menyalahkan dirinya, “Semua gara-gara aku, aku yang menyebabkan Sia jadi begini, gara-gara waktu itu aku menyalahkan semuanya ke Sia”, pikirnya.

Setelah itu, setiap harinya Moran cilik berdoa demi adiknya, agar nyawanya tertolong. Moran pun sempat menyesal kenapa dirinya terlahir menjadi vampir. Andaikan dia seorang manusia, dia akan langsung bersedia memberikan adiknya energinya….

Kembali ke masa kini, Moran dewasa melanjutkan cerita semuanya itu pada adiknya. Dia bilang kalau setelah itu semuanya berusaha keras agar Sia sadar kembali dan mmembuka matanya. Sampai suatu hari, Sia kecil benar-benar terbangun dan membuka lebar kedua matanya, tetapi ada satu hal yang berbeda….

yaitu dia sama sekali tidak ingat kejadian hari itu.

Moran pun bilang kalau semuanya jadi takut cerita pada Sia lagi, takut kalau Sia teringat lagi dan semuanya kembali seperti hari itu. Jadi mereka semua terpaksa merahasiakan tentang hal itu dari Sia. Selain itu, demi melindungi Sia, Moran pun memilih profesi menjadi dokter, supaya kejadian waktu itu tidak terulang lagi.

Moran: “Sia….. Itu sebabnya kita semua merahasiakan ini dari kamu…”

“Kita semua nggak ingin kamu ingat lagi….”

“karena kita nggak ingin sampai kehilangan kamu…..”

“Sia… buat kita sekeluarga, kamu itu kesayangan kita yang paling berharga”

“Kakak nggak ingin melihat kamu tergeletak di ranjang seperti waktu itu lagi….”




Masih syok mendengar semuanya itu…. Sia berkata pelan-pelan….

Sia: “…. Lalu…. sekarang aku harus bagaimana ini…..?”

“Kak! Sekarang aku harus bagaimana…?!”

“Aku… kalau aku benar-benar bisa bikin manusia sampai mati……”


“Terus…..”


“Terus… Jiho gimana?”


Kata Sia dengan penuh linang air mata.















—– TO BE CONTINUED —-

SUMBER TEKS BERASAL DARI UNTOUCHABLE LINE WEBTOON BAHASA MANDARIN DAN KOREA. NARASI KAMI TAMBAHKAN SENDIRI UNTUK MEMPERMUDAH MEMBAYANGKAN TANPA MELIHAT GAMBARNYA. HASIL AKHIR PADA KOMIK BISA JADI ADA PERBEDAAN KARENA AKAN MENGALAMI PENYESUAIAN BEGITU VERSI INGGRISNYA KELUAR.

Check Also

Samsung Kembangkan Sensor Smartphone 576 Megapiksel pada 2025

Kepoin News – Setelah meluncurkan sensor smartphone ISOCELL HP1 200 megapiksel yang baru saja diluncurkan, …

Leave a Reply

Your email address will not be published.