Sneak Preview unTouchable Episode 114 Bahasa Indonesia








Untuk melihat gambar-gambarnya, kamu bisa buka langsung Episode 114 dari Naver Webtoon Korea di sini.

Belum baca teks terjemahan episode sebelumnya? Cek di sini.

Gambar tidak disertakan karena dibatasi kontrak dengan pengarang.

BACA JUGA UNTOUCHABLE BAHASA INDONESIA (VERSI SUDAH BERGAMBAR)
YANG TERSEDIA DI SINI

JANGAN MENERUSKAN JIKA TIDAK INGIN SPOILER.

—– NOTE —-
Terima kasih atas dukungannya. Melihat format yang baru ternyata diterima dengan baik, terjemahan unTouchable akan tetap dipertahankan seperti minggu kemarin. Untuk kali ini porsi dialog akan diperbanyak karena episode ini termasuk episode yang penting. Mohon dibaca ya!

Episode 114 START

Sia kecil mengajak teman barunya itu bermain-main, “Aku nemuin tempat yang bagus lho. Banyak batu-batuannya yang indah. Tempatnya di air terjun dekat rumahku. Kita ke sana yuk.”

“Air terjun? Tapi apa kita boleh ke sana?”, kata Yoon Seo ragu.

“Nggak apa-apa, aku tahu jalannya kok.”

“tapi… kalau pergi sendirian nggak ditemenin sama orang dewasa, apa nanti nggak dimarahin?”


“Nggak usah kuatir, nggak bakalan ada yang tau kok.”


“Jadi, kita ke sana yuk!”

Ajak Sia sambil tersenyum lebar.

unTouchable Episode 114
Gara-Gara Aku











Kembali sejenak ke masa kini, Sia dewasa datang lagi ke air terjun tempat dia melewatkan waktu bersama Jiho waktu itu.

Ssaasshh— terdengar suara air terjun kecil di pegunungan itu, suasananya begitu damai. Begitu pula suara rintikan air dari daun. Tempat nan indah itu dikelilingi bebatuan yang basah berkilau-kilau disinari matahari.

Dalam hatinya Sia berkata:

“Suara air yang menetes dari daun…..”

“Semua suara-suara ini….. sekarang aku ingat”

“Tempat di mana aku pernah punya kenangan bersama Jiho ini…”

“Juga pernah kudatangi bersama teman perempuanku waktu itu…”

“Perlahan-lahan semua ingatanku kembali…”

“Semuanya… yang terjadi pada hari itu….”























Kembali lagi ke Sia kecil yang bermain-main bersama temannya.

Yoon Seo: “Wah indahnya! Airnya berkilau-kilau seperti berlian. Aku juga bisa melihat ikan-ikannya.”

Sia: “Gimana? Nggak salah kan, kita ke sini? Kita bisa menikmati bebatuan yang bagus.”

“Iya. Semua ini baru pertama kalinya kulihat. Biasanya kalau di tempat bermain aku cuma main-main sendirian.”


Mendengar itu, Sia diam sejenak. Dia berpikir untuk menjadi lebih akrab dengannya, 
“Kalau gitu kita main ini aja yuk.” tanpa pikir panjang, tangannya langsung mencipratkan sedikit air pada temannya itu dengan maksud bercanda.

Ciprat!

“Aaah. Dingin!!”

“Hahaha! Gimana serangan airku? Mantap kan?”

“Dasar Sia!”

“Kamu kira aku nggak berani basah-basahan?! Rasain nih!”

Ciprat!

Dengan bahagia, keduanya saling bermain lempar air ke badan masing-masing sampai pakaian mereka basah kuyup. Sambil duduk-duduk beristirahat, Sia bilang:

“Duh basah semua nih. Kalau pulang nanti pasti dimarahin sama ibuku.”

“Biar dimarahin, tapi kita senang kan? Kita ke arah sinar matahari aja biar kering.”

“Oya… Sia… emm… kita… gandengan tangan yuk?”

“Hm? Gandengan?”

Mendengar itu, Sia jadi teringat sejenak kata-kata ibunya:

“Ingat Sia! Manusia itu mangsa! Jadi kamu nggak boleh sembarangan pegang tangan mereka. Mengerti kan?” 



“Tapi.. kalau kamu nggak mau juga nggak apa-apa kok…..”

“aku… aku cuma mau…”




“Nggak apa-apa kok! Ayuk gandengan yuk! Kita kan teman yang spesial!”, Jawab Sia sambil menggandeng tangan temannya itu


“Hehe… beneran? Makasih ya Sia, kamu mau jadi temanku. Kalau setiap hari bisa sama-sama kamu, aku senang banget. Entah kenapa rasanya aku sama kamu ini spesial yah? Aku suka kamu lho Sia.”

“Sama kok Yoon Seo, aku juga sangat suka sama kamu! Kalau gitu, kita temanan sampai selamanya kan?”

“Tentu aja dong! Termasuk kalau kita sudah jadi mama-mama ya?”

“Iya, jelas dong.”

“Kalau udah jadi nenek-nenek??”

“Iya, pokoknya selama-lamanya!”

Dengan senyuman lebar di wajah mereka, kedua gadis imut itu pun menjadi teman yang sejati.







Tiba-tiba melompatlah seekor katak di ujung satunya dari air terjun itu, Sia langsung menoleh ke arahnya dan tertarik.

Sia: “Wah! Lihat tuh! Ada kodok! Kita nyebrang ke sana yuk!”

“Tapi batunya kan licin. Hati-hati.”

 “Nggak apa-apa. Aku ini pintar olahraga kok”



Melihat Sia pergi meninggalkannya, Yoon Seo segera bergegas mengejarnya. Batu demi batu dia lompati meski licin.

Tapi!

Sia: “Hehe! Yoon Seo, lihat nih. Aku berhasil nangkap kodok lho! Kamu cepetan ke—-“

Kata-kata Sia terhenti, dia melihat pemandangan buruk di depan matanya. Air yang tadinya jernih kini berwarna merah yang asalnya dari kepala Yoon Seo…


“Yoon Seo…..?”









Kembali ke masa kini. Di saat Sia dewasa mengunjungi air terjun, adiknya (Ragi) masih berada di rumah diberi penjelasan oleh sang ayah tentang hari itu. “Hari itu tidak bisa kulupakan, tidak ada orang dewasa yang bisa membantu mereka”, kata sang ayah suram.

Rupanya kelanjutan dari kisah masa lalu Sia itu, Sia kecil berlari-lari menggendong temannya di siraman hujan dengan petir menyambar-nyambar sampai di depan rumahnya. 

Sang ayah dan ibu yang melihatnya sampai syok tidak bisa berkata apa-apa. 

Ayah Sia: “Sia…. apa-apaan ini?”

Sia: “Ayah!! Tolong aku!!! Tolongin aku!”

“Yoon Seo…. Yoon Seo temanku…..”


Kondisi Yoon Seo sudah sangat kritis sekali. Menurut dokter, itu terjadi karena dia kehilangan banyak darah jadi tidak bisa sadarkan diri.

Ayah Sia: “Dokter itu bilang, entah kenapa… kondisinya menjadi sangat buruk. Anak itu sudah tidak bisa disembuhkan lagi.”

“Tapi biar begitu, kita semua tahu alasannya.”

“Karena sewaktu Sia menggendong temannya itu, tangannya menyentuh paha sampai menghisap habis semua energinya.”


Ragi: “Tunggu ayah!! Seharusnya vampir itu biarpun menghisap energi manusia, tapi tidak bisa bikin mereka mati kan?!”


“Lalu… kenapa kak Sia…. kenapa kak Sia bisa….”


Ayah Sia: “Memang benar……… vampir biasa-biasa saja tidak akan bisa membunuh manusia. Tapi…..”



“Sia itu vampir yang berbeda dari kita”



















Sementara itu, Sia dewasa yang masih berada di air terjun, kini juga menyadari apa yang sebenarnya terjadi hari itu….

sambil melihat tangannya sendiri, dia terbata-bata…. syok dan tidak percaya dengan apa yang baru diingatnya….



Sia: “Tidak mungkin…., ini tidak mungkin”

“Gara-gara aku….”


“Ini bohongan kan??? Ini tidak mungkin…”


“Aku….”


“Aku pernah bunuh manusia….???” 










—– TO BE CONTINUED —-

SUMBER TEKS BERASAL DARI UNTOUCHABLE LINE WEBTOON BAHASA MANDARIN DAN KOREA. NARASI KAMI TAMBAHKAN SENDIRI UNTUK MEMPERMUDAH MEMBAYANGKAN TANPA MELIHAT GAMBARNYA. HASIL AKHIR PADA KOMIK BISA JADI ADA PERBEDAAN KARENA AKAN MENGALAMI PENYESUAIAN BEGITU VERSI INGGRISNYA KELUAR.

Check Also

Samsung Kembangkan Sensor Smartphone 576 Megapiksel pada 2025

Kepoin News – Setelah meluncurkan sensor smartphone ISOCELL HP1 200 megapiksel yang baru saja diluncurkan, …

Leave a Reply

Your email address will not be published.