Sneak Preview unTouchable Episode 112 Bahasa Indonesia








Untuk melihat gambar-gambarnya, kamu bisa buka langsung Episode 112 dari Naver Webtoon Korea di sini.

Belum baca teks terjemahan episode sebelumnya? Cek di sini.

Gambar tidak disertakan karena dibatasi kontrak dengan pengarang.

BACA JUGA UNTOUCHABLE BAHASA INDONESIA (VERSI SUDAH BERGAMBAR)
YANG TERSEDIA DI SINI

JANGAN MENERUSKAN JIKA TIDAK INGIN SPOILER.


Kode warna:
Sia = Hitam Tebal
Jiho = Oranye
Baryu = Kuning
Sihwan = Abu-Abu
Mr. Choi = Merah
Moran = Ungu
Figuran lain = Hijau, dll.
Italic/Miring = tidak diucapkan

Narasi:
italics, hitam biasa

—– START —-

Melanjutkan episode sebelumnya. Mr. Choi datang ke sebuah bar mendatangi Baryu.


Mr. Choi: “Tidak kusangka kita bertemu di tempat ini. Benar-benar takdir.”

“Hai bocah.”

Baryu: “Ada apa ini? Kenapa kamu ada di…

“Ada seseorang yang harus kutemui di sini.”

“Apa ini? Masih kecil sudah minum bir? Harusnya kamu minum susu saja.”

“Kalau dipikir-pikir, sepertinya ini pertama kalinya kita bertemu sejak hari itu kan?”

“Bagaimana? Apa cintamu yang bertepuk sebelah tangan itu sudah habis sekarang?”













unTouchable Episode 112
Ada Kejadian Apa?















Baryu: “Apa hubungannya sama kamu? Urusilah urusanmu sendiri.

“Jangan berlagak seperti tahu semuannya.”

Mr. Choi: “Tentu saja ini bukan urusanku.”

“Lagipula untuk apa aku mengurusi urusan hati seseorang yang tidak bisa mengatur perasaannya sendiri.”

“Tapi, kamu pasti merasa kecewa dengan masalah itu kan?

“Cintamu direbut seseorang yang sama sekali bukan kaum vampir.”

Lee Sia benar-benar jatuh cinta pada manusia, dan dibutakan oleh mereka.”

“Bagaimana kalau kamu menyerah saja? Atau jangan-jangan kamu malah sudah menyerah?”

“Sejak awal, Lee Sia bukanlah pasangan hidupmu yang sejati.”

“Jangan berkata yang tidak-tidak jika tidak tahu masalahnya!!

“Waktu itu, kamu… andai saja Shin Jiho benar-benar kamu mangsa, semuanya tidak akan jadi seperti ini.”

“Jika saja kamu bertindak dengan benar… semuanya pasti akan berjalan lancar.”

“Padahal aku sangat menyayangi dia, tapi kenapa…. oleh manusia…?”

“kenapa dia direbut oleh manusia…”

“Semua yang namanya manusia, saat ini benar-benar kubenci.”


“Ini menarik sekali”

“Itu benar. Manusia itu memang makhluk bodoh, sudah tidak tahu kalau mereka itu mangsa kita, malah menyodorkan diri mereka.”

“Mungkin kita berdua ini ada kemiripan.”

“Aku sendiri juga benci manusia. Sampai benar-benar jijik pada mereka.”

“Jika berburuku berhasil, kamu juga bisa terluka. Jadi aku rasa ada baiknya ada vampir yang punya pemikiran sama denganku.”

“………………..”

“Jangan seenaknya sendiri!”


Baryu menepis tangan Mr. Choi

“Kamu sendiri juga tidak ada bedanya. Shin Jiho pun tidak bisa kau mangsa.”

“Bukannya kamu sama saja denganku?!”

“Benarkah? Apa kamu yakin begitu?”

“Aku bertindak menurut rencanaku sendiri, semuanya lancar-lancar saja.”

“Aku ini tidak sama denganmu. Aku tidak sebodoh itu sampai hanyut dalam perasaan.”

“Kalau mau mendapat apa yang kamu inginkan, jangan gunakan perasaan sama sekali”

“Yang saat ini kulakukan tinggal menunggu kesempatan saja. Cukup satu kesempatan saja”

“Lalu yang terbaik pun akan jatuh di dalam tanganku.”

Baryu terkejut mendengarnya

“…Apa maksudnya itu?”

“Anak kecil seperti kamu tidak akan mengerti, jadi kamu tidak perlu tahu.”

“Aku pergi dulu, sudah waktunya pertemuan.”

“Siapa kamu sebenarnya!?”

“Tiba-tiba masuk seenaknya dan berkata-kata yang aneh-aneh, sama sekali tidak mengerti keadaan”

“Kalau seperti itu, apanya yang hebat darimu?!”

“….Keberadaanku saja sudah jauh lebih tinggi dari kalian.”

“Jangan samakan aku dengan kalian. Aku ini sama sekali tidak memandang rupa-rupa manusia. Demi berburu, apapun siap kulakukan.”

“Apa kamu ingin tahu alasan kenapa aku menjadi editor yang jarang sekali berburu?”

“Karena semuanya akan jadi sulit kalau kamu terbuka dan terkenal”

“Apa… maksudmu…”



“Kukatakan satu hal saja. Cuma untuk kamu saja.”

“Jika ada manusia yang mati diburu vampir, maka dia tidak akan pernah diketahui penyebab kematiannya.”

“Itu artinya vampir sama sekali tidak akan pernah bisa ditangkap”

“Vampir-vampir yang biasa saja tidak akan tahu hal sesederhana ini, mungkin kamu termasuk di antaranya”


“Apa…?!”



Begitu Mr. Choi keluar, sudah ada wanita menungguinya.

“… Pak Choi, maaf menunggu lama.”

“Tidak apa-apa, apa kita bisa pergi sekarang?”

sementara Baryu masih kepikiran kata-kata Mr. Choi.

“kata-katanya barusan…

“jangan-jangan dia….?!”


















Kemudian di tempat lain, di sebuah gedung SD 

Petugas: “Silakan. Ini catatan murid yang nona inginkan.”

rupanya Sia berada di ruang admin itu meminta catatan murid di situ.

“Ini catatan untuk anak SD kelas 2 semester pertama. Silakan dikonfirmasi dulu.”

Lee Sia:  “Ah, makasih. Maaf merepotkan.”


“Rupanya benar-benar ada catatan masuk sekolahnya. SD Cheongsol… murid transfer kelas 2.”

“Andai ini benar, dan aku memang pindah sekolah waktu kecil, harusnya aku masih ingat.”

“Tapi aku sama sekali nggak ingat apa-apa. Aku nggak ingat pernah pindah rumah dan pindah sekolah.”

“Yang kuingat dengan jelas malah sewaktu TK di kepalaku pernah menempel gurita besar, aku sampai ingat dengan jelas sekali…”

Kata Sia sambil membayangkan gurita menempel dikepalanya.


“Lalu kenapa… aku sama sekali tidak punya ingatan tentang sekolah ini?”

“Seperti ingatanku dipotong dengan gunting saja…”


Tiba-tiba HP Sia berbunyi.


“Ah, HP-ku, lupa ku-set silent! Kan aku lagi di sekolahan!”

“Eh?!”

Sia terkejut melihat tulisan di HP itu, ayahnya menghubunginya.













di tempat lain, di kediaman keluarga inti Sia



TRRRR-    TRRRR-

Suara nada sambung yang tidak kunjung berhenti, lalu

“Nomor yang Anda hubungi sedang sibuk atau berada di luar jangkauan, silakan tinggalkan pesan setelah bunyi bip.”


Moran: “Dia tidak akan mau menjawabnya. Sejak saat itu, Sia sama sekali tidak bisa dihubungi….”

Ayah Sia: ”……”


“Ayah, maafkan aku. Aku sempat salah bicara sama dia…”

“Jangan salahkan dirimu. Pikirkan saja saat ini harus bagaimana.”

“Apa Sia….. dia sudah tahu semuanya?”


“Seharusnya masih belum… dia sama sekali tidak bisa ingat apa-apa. Ingatan di kepalanya tentang itu sudah tidak ada.”

“Ini sejenis amnesia untuk menghindari kenyataan, agar tidak sampai jadi paranoid secara berlebihan.”

“Sewaktu kejadian di masa kecilnya itu, begitu dia sadarkan diri, Sia tidak ingat apa-apa.”

“Kalau tidak ada masalah yang besar, dia tidak akan bisa mengingatnya kembali.”

Ibu Sia: “Suamiku, kurasa sudah saatnya kita memberitahu Sia.”

“Kita tidak bisa selamanya menutupi hal ini dari Sia”

“Dia juga harus belajar menerimanya. Termasuk kejadian pada saat hari itu, juga terhadap dirinya sendiri.”


Ayah Sia: “Tapi… kalau memberitahu dia…”

Tiba-tiba Ragi, adik Sia, datang mendengar diskusi mereka.

Ragi: “Kalian lagi ngomongin apa sih? Kejadian hari itu, emangnya ada kejadian apa?”

“Kakak kedua… sebenarnya dia mengalami kejadian apa?”

Bersambung

—– TO BE CONTINUED —-

SUMBER TEKS BERASAL DARI UNTOUCHABLE LINE WEBTOON BAHASA MANDARIN DAN KOREA. NARASI KAMI TAMBAHKAN SENDIRI UNTUK MEMPERMUDAH MEMBAYANGKAN TANPA MELIHAT GAMBARNYA. HASIL AKHIR PADA KOMIK BISA JADI ADA PERBEDAAN KARENA AKAN MENGALAMI PENYESUAIAN BEGITU VERSI INGGRISNYA KELUAR.

Check Also

Samsung Kembangkan Sensor Smartphone 576 Megapiksel pada 2025

Kepoin News – Setelah meluncurkan sensor smartphone ISOCELL HP1 200 megapiksel yang baru saja diluncurkan, …

Leave a Reply

Your email address will not be published.