Sneak Preview unTouchable Episode 107 Bahasa Indonesia








Untuk melihat gambar-gambarnya, kamu bisa buka langsung Episode 107 dari Naver Webtoon Korea di sini.

Belum baca teks terjemahan episode sebelumnya? Cek di sini.

Gambar tidak disertakan karena dibatasi kontrak dengan pengarang.

BACA JUGA UNTOUCHABLE BAHASA INDONESIA (VERSI SUDAH BERGAMBAR)
YANG TERSEDIA DI SINI

JANGAN MENERUSKAN JIKA TIDAK INGIN SPOILER.


Kode warna:
Sia = Hitam Tebal
Jiho = Oranye
Baryu = Kuning
Sihwan = Abu-Abu
Mr. Choi = Merah
Moran = Ungu
Figuran lain = Hijau, dll.
Italic/Miring = tidak diucapkan

Narasi:
italics, hitam biasa

—– START —-

“Sia… apakah kamu mau… kalau kita menikah? tanya Jiho

Sia kebingungan dalam hatinya…

“…Eh?

“…Jiho… kamu bilang apa…?”


“M, Menikah?!!!!!!!”





unTouchable Episode 107
Mari Buktikan












“T, tenang dulu, Sia!”

Kata Sia dalam hati berusaha menenangkan dirinya.



“J, jadi barusan dia… dia melamarku?!!”

“T, tapi, kok nggak ada cincinnya? Juga nggak ada kejutannya?!!!”

“Aah! Bukan itu yang terpenting saat ini…!!”

“Aku kira tadinya perasaan Jiho terhadapku sudah memudar…”

“Kok bisa tiba-tiba dia bilang mau mengajakku menikah…?!”

“Aku memang senang sih, tapi…!!”



Kalau begitu, bukankah seharusnya kamu jujur kepadanya dan bilang kalau sebenarnya kamu itu vampir?

Sia teringat sekejap kata-kata Mr. Choi



“Benar… aku masih belum bilang apa-apa sama Jiho…”

“Jiho sama sekali masih belum tahu rahasiaku…”

“Jadi, yang dia lamar sebenarnya bukan aku sebagai vampir…

tetapi aku sebagai manusia.”

“Lalu, kalau nanti dia tahu kalau aku ini vampir…”

“Bisa-bisa, aku sama Jiho…….”



Sia merenung dan makin terlihat tidak bersemangat… lalu dia memejamkan matanya.

“Nggak bisa… Aku… aku masih nggak berani bilang…!”



“Maafin aku ya, Jiho

Kata Sia menolak lamaran Jiho.




“A… aku sama sekali nggak nyangka kalau kamu ajak aku nikah…”


“…………

Jiho diam saja memperhatikan Sia.



“Jadi, untuk sementara…”

“Tidak perlu dimasukkan ke hati, tadi aku cuma asal bicara saja.” Jiho menyela

“Itu sudah pasti, soalnya kamu punya kehidupanmu sendiri.”

“Tadi aku cuma… ingin tahu saja seperti apa pemikiranmu.”

“Maaf, sudah berbicara yang aneh-aneh.”


“……….”

Kali ini Sia yang diam saja.


“…kalau begitu, Sia…”


“Hari ini… maukah menginap di sini?”
















Cerita beralih ke Moran, yang sedang mengingat-ingat kata-kata Jiho kepadanya.

”Seandainya memang aku nanti akan dibuang…”


“Aku tetap takkan menyerah memperjuangkan dia.”

“Tapi, jika seandainya benar Sia akan meninggalkanku setelah kami benar-benar tidur bersama…”

“Saat itu, aku akan merelakannya.”

“Kenapa kamu sampai nekad berbuat begitu?!!”

“Apa kamu tidak apa-apa kalau nanti sampai terluka?” 

“Aku tidak apa-apa”

“Jika memang itulah yang diinginkan Sia…”

“Aku akan menurutinya.”




Selesai mengingat-ingat, sambil berada di jendela, Moran berkata-kata sendiri.


“…Sia”

“… jangan lakukan ini, tolong jangan…”




















Kembali ke Jiho dan Sia, keduanya kini berada di ranjang.

Jiho mendekati Sia yang berbaring di ranjangnya,

dan tangannya membelai bibir Sia.


Sementara itu, Sia masih keheranan dan berkata-kata dalam hatinya.

“Kok bisa begini ya? Bukannya nggak lama lalu dia menjauhi aku..”

“Tapi sekarang malah maju duluan…”

“Apakah nggak apa-apa kalau ini diteruskan?”

“Tapi, saat ini…”

“Yang kuinginkan…”

“Aku benar-benar ingin merasakan Jiho.”


Mereka berciuman.


Lalu Jiho membuka baju Sia. Kini Sia terlihat hanya mengenakan pakaian dalamnya.


“Emm… Jiho… jangan terburu-buru ya, aku takut kalau nanti kamu pingsan lagi.”


“Aku tidak apa-apa.

“Yang kuinginkan, cuma kamu sudi saja bersamaku.”



“Ah… Iya…”



Jiho mulai mencumbu Sia dengan mencium lehernya.

Sambil diciumi, Sia berkata-kata lagi dalam hati.



“Aku bisa merasakan energinya Jiho lagi.”

“Terasa di jari-jariku…

bibirku…

dan nafasku…”


Jiho mendekatkan bibirnya ke dada Sia.

Sia memejamkan matanya sambil dag-dig-dug.

“Rasanya kepalaku benar-benar plong.” katanya dalam hati.






“Sia….

Tiba-tiba Jiho mengajaknya bicara. Sia memperhatikannya.

“Aku…”

“Jika nanti kamu akan membuang aku, aku tidak akan apa-apa.”

“Jika memang selama ini kamu cuma memanfaatkan aku”

“menjadi seseorang untuk kamu sentuh-sentuh, aku juga takkan apa-apa”

“Jadi, hari ini… kamu boleh melakukan sesukamu.”


Sia terbelalak, lalu dia terduduk dan menanyai Jiho.




“T, t, tunggu dulu, Jiho… kamu ngomong apaan sih?”



“Aku sudah mendengarnya…”

“Aku sudah mendengar kalau tujuanmu mendekatiku sejak awal…”

“Juga tujuanmu bersusah-payah menyembuhkan aku…”

“Semuanya itu… agar kamu bisa menyentuh-nyentuh aku.”




“Jiho, jangan-jangan kamu… ketemu sama kakakku ya?”

“Apa yang kakakku bilang ke kamu?”


“Dia mengatakan semuanya. Dia bilang kalau kamu cuma mendekatiku demi menyentuh-nyentuh aku…”

“Lalu, nanti setelah kita tidur bersama, kamu akan meninggalkanku.”


Sia tercengang mendengarnya. Lalu berkata sambil teriak

“Jiho, kamu salah paham!! Ini bukan seperti itu!”

“Memang benar, awal-awalnya… aku tidak begitu serius sama kamu…”

“Tapi saat ini…!!”

“saat ini aku benar-benar serius sama kamu…!!”










“Itu benar, awal-awalnya yang terjadi memang seperti itu.”

Kata Sia dalam hatinya. Sambil mengingat-ingat semua yang pernah terjadi di antara mereka berdua.

“Awal-awalnya, kamu cuma kulihat sebagai mangsaku”

“Karena kamu itu rasanya enak, jadi aku pun langsung mendekati kamu.”

“Setelah OCD-mu sembuh, aku pun berpikir bisa bebas menyentuh-nyentuh kamu.”

“Pacaran cuma kupakai supaya bisa menyentuh kamu saja.”

“Waktu itu aku sama sekali tidak peduli sama isi hatimu…”

“Begitu ada yang kuinginkan, pasti langsung kulakukan…”

“Tapi saat ini sudah beda… saat ini, aku terhadap kamu…”


“Mungkin inilah hukumanku, gara-gara dulu aku terlalu memikirkan diriku sendiri.”


“kalau Jiho punya pemikiran seperti itu… penyebabnya juga gara-gara aku sendiri.”

“Jika saat ini kukatakan pada Jiho, kalau aku berbuat seperti itu karena aku ini vampir…”

“Jangan, kalau aku bilang begitu, terus dia jadi tidak berani mendekatiku lagi…”

“bisa-bisa, aku…”







Kembali ke alam nyata.


“Tidak apa-apa, Sia. Entah kamu serius atau tidak.”

“Aku sudah tidak apa-apa. Aku bisa menerima semuanya.”


“Jadi…”


“… Bukan!”

Sia menyela Jiho!



“Ah!”

BRUK! Jiho didorong Sia, sekarang posisi Jiho lah yang berbaring.


“…Sia…!”



“Kalau begitu, ya sudah, ayo kita buktikan!”

“Lihatlah baik-baik, apa benar aku akan pergi dari kamu setelah kita tidur bareng!”

“Lihatlah baik-baik dengan mata kepalamu sendiri!”


Kata Sia sambil menahan air mata yang mulai berlinang di wajahnya.









—– TO BE CONTINUED —-

SUMBER TEKS BERASAL DARI UNTOUCHABLE LINE WEBTOON BAHASA MANDARIN DAN KOREA. NARASI KAMI TAMBAHKAN SENDIRI UNTUK MEMPERMUDAH MEMBAYANGKAN TANPA MELIHAT GAMBARNYA. HASIL AKHIR PADA KOMIK BISA JADI ADA PERBEDAAN KARENA AKAN MENGALAMI PENYESUAIAN BEGITU VERSI INGGRISNYA KELUAR.

Check Also

Samsung Kembangkan Sensor Smartphone 576 Megapiksel pada 2025

Kepoin News – Setelah meluncurkan sensor smartphone ISOCELL HP1 200 megapiksel yang baru saja diluncurkan, …

Leave a Reply

Your email address will not be published.