Sneak Preview unTouchable Episode 106 Bahasa Indonesia








Untuk melihat gambar-gambarnya, kamu bisa buka langsung Episode 106 dari Naver Webtoon Korea di sini.

Belum baca teks terjemahan episode sebelumnya? Cek di sini.

Gambar tidak disertakan karena dibatasi kontrak dengan pengarang.

BACA JUGA UNTOUCHABLE BAHASA INDONESIA (VERSI SUDAH BERGAMBAR)
YANG TERSEDIA DI SINI

JANGAN MENERUSKAN JIKA TIDAK INGIN SPOILER.


Kode warna:
Sia = Hitam Tebal
Jiho = Oranye
Baryu = Kuning
Sihwan = Abu-Abu
Mr. Choi = Merah
Moran = Ungu
Figuran lain = Hijau, dll.
Italic/Miring = tidak diucapkan

Narasi:
italics, hitam biasa

—– START —-

Jiho berkunjung ke tempat kerja Moran,

sambil duduk-duduk, keduanya berbicara

“Maaf… kemarin aku menelepon malam-malam.” kata Jiho

“Ah, nggak apa-apa. Walau aku memang agak kaget sih.” Jawab Moran


“Alasanmu menemuiku… apa karena Sia?”


“Katakan saja.”


“Aku sudah bisa menduga… kalau kamu akan mencariku.”



unTouchable Episode 106
…Mau Atau Tidak?













Sementara itu, Sia berada di sebuah klinik ortopedi.


“Kalau sudah selesai dikompres dengan air hangat, nona boleh pergi.” kata sang suster

“Luka nona tidak parah, besok pasti sudah sembuh.”

“Untunglah nona cepat diberi perawatan darurat yang baik.”

“Nona silakan istirahat dulu, jangan banyak bergerak ya.”

Kata suster itu sambil keluar dari ruangan

“Oke, makasih ya.





Sambil berbaring, Sia berbicara sendirian


“Fiuh… syukurlah tidak ada efek apa-apa. Aku benar-benar beruntung.”

“Mumpung lagi dikompres, aku tidur dulu ah?”

“Soalnya kemarin aku susah sekali tidur…”




“………………”

Sia membayangkan sesuatu sambil berbicara dalam hatinya

“Kemarin…, nggak kusangka kalau Jiho bakalan bilang begitu”


Sia mengingat kata-kata Jiho:

“Jika ada satu sisi darimu yang belum kutahu…

…aku sulit mengatakannya.

Aku rasa aku juga tidak tahu harus berbuat bagaimana.”





“Benar, semuanya pada bilang kalau kita sulit menerima sisi lain seseorang yang baru kita ketahui.”

“Sihwan itu cuma satu-satunya perkecualian…”


Kata Sia sambil membayangkan Sihwan


Lalu teringat-ingat kata-kata Mr. Choi

Sudah jelas kan? Apa kamu kira dia akan semudah itu menerima kamu?








“Tapi… jika aku bilang blak-blakan kepadanya…”

“…dan kalau Jiho nggak bisa menerimanya…”

“Apa kami akan putus…?”


“Nggak bisa…! Pokoknya nggak boleh…!!!”

“Aku nggak mau putus…!!!”



“Jadi… apa sebaiknya kusimpan saja selamanya…?”




“Selamanya tidak kubilang… kalau aku ini vampir?”




cerita beralih ke Moran dan Jiho



“Akhir-akhir ini, banyak sekali yang kupikirkan

“Hari itu… kak Moran pernah bilang, kalau Sia cuma mendekatiku karena dia mengincar aku.”

“Demi menyentuh-nyentuh aku, dia mendekatiku…”

“Kalau kupikir-pikir lagi…  seperti yang kak Moran katakan, Sia sendiri terlihat bersikap seperti itu.”

“Memang benar terasa ada yang tidak wajar.”

“Pada dasarnya dia sama sekali tidak kenal aku, lalu tiba-tiba pernah bilang kalau dia suka padaku.”

“Dulu dia juga suka mendorongku dan bilang kalau dia ingin menyembuhkan OCD-ku…

“Bisa jadi semua ini karena dia juga punya tujuannya sendiri.”


“Apa kamu pernah membicarakan ini dengan Sia?”



“…belum”

“Aku tidak bisa melakukannya… seandainya aku dengar dengan telingaku sendiri kalau semua itu benar… “

“aku pasti benar-benar…”


“Yang kamu lakukan sudah tepat, Jiho. Aku tahu kamu mengalami banyak kejadian pahit.”

“Meskipun nanti kamu bicarakan dengan Sia, tetap tidak akan ada yang berubah.”


“Jadi, kalau bisa secepatnya saja kalian putus…”


“…Kenapa?”

Jiho menyela


“…Kenapa… bilang padaku seperti ini?”

“Bukannya Sia itu keluargamu? Adikmu yang sangat kamu sayangi?”

“Padahal demi Sia, kak Moran bisa saja berlagak pura-pura tidak tahu…”

“Tapi kenapa, sekarang malah…”

Jiho tidak menyelesaikan kata-katanya


“…………….”

Moran terdiam sejenak


lalu berkata


“Karena aku tidak ingin melihatmu terluka lagi.”


“…Jiho.”

“Aku ini sangat mengerti kamu.”


“Dulu kamu pernah dibuang oleh ibumu, jadi hatimu pun kau tutup.”

DEG! Jiho teringat masa lalunya

“Jadi aku tidak ingin membiarkan kamu merasakan lagi pahitnya rasa dibuang itu.”

“Coba kamu bayangkan saja Jiho, kira-kira bagaimana rasa sakitnya kalau kamu dibuang oleh orang lain lagi…”

DEG-DEG! Jiho berkeringat

“Semakin kamu menginginkan pasanganmu, lukamu pasti akan semakin besar, sampai kamu tidak kuat menerimanya.”

DEG-DEG! Jiho makin berkeringat

“Apa kamu masih ingin merasakan lagi rasa sakit itu, jelas tidak kan?”

DEG-DEG! Mata Jiho terbelalak.

“Jadi, aku merasa kalau kamu tidak boleh sampai merasakan rasa terbuang itu lagi.”

“Itu sebabnya, aku tidak bisa diam saja.”

Jiho tertunduk.

“Karena kalau sampai terjadi seperti itu, hidupmu bisa hancur.”


“Aku tahu kalau Sia itu orang yang benar-benar kamu sayangi, tapi…”


“Sia bukanlah orang seperti yang kamu bayangkan.”


“Aku tahu kamu pasti akan kesulitan menjauhi dia…”


“Tapi saat ini yang terpenting adalah jaga dirimu sendiri, jadi… pikirkanlah dirimu dulu.”


“Sebelum kamu mendapat luka yang lebih dalam lagi… selesaikanlah dulu urusan hatimu itu…”

Krrt, Jiho menggenggam erat tangannya, lalu mulai berbicara

“…Aku bersyukur, sekarang aku bisa mengerti semuanya.”

“Seperti yang kak Moran katakan, lebih sakit dibuang orang yang sudah kita mengerti daripada orang yang tidak kita ketahui.”

“Sejak hari itu, aku sangat terluka. Aku sampai tidak bisa percaya siapa-siapa lagi, termasuk diri Sia.”

“Tapi di saat yang sama, di dalam hati ini, aku juga menanyakan diriku”

“Ratusan kali aku bertanya, apakah yang kak Moran katakan itu benar.”

“Aku bisa tidak terlalu memikirkan Sia.”

”Tapi… aku tidak sanggup kalau harus berpisah darinya.”

“Tapi, Jiho…”


”Dan seandainya memang aku nanti akan dibuang…”

“Aku tetap takkan menyerah memperjuangkan dia.”


Sementara itu, Sia baru saja keluar dari klinik ortopedia. Dia menerima SMS dari Jiho.

“Ada yang ingin kubicarakan denganmu. Datanglah ke rumahku sebentar”

bunyi tulisan di SMS itu



“…ada yang mau dibicarakan denganku?”


“Mau ngomongin soal apa sih…? Aku jadi khawatir.




Ting-Tong, Sia sudah sampai di rumah Jiho, dan dibukakan pintu.

“Tadi kamu ke klinik?”

“Iya. Susternya bilang karena aku cepat diberi pertolongan, jadinya nggak apa-apa.”

“Hari ini aku sudah bisa jalan kaki lho, jadi sudah nggak apa-apa.”

“Tapi… kamu mau ngomongin soal apa…?”


“……………….”

Jiho hanya diam saja sambil menatap Sia.





“Masuklah dulu. Mau minum teh?”

“Ah… iya.”





Teh pun tersaji di meja ruang tamu. Keduanya duduk di sofa namun saling diam. Sia berkata-kata dalam hatinya.



“Kenapa suasananya begini…?”

“Kenapa Jiho diam terus sejak tadi…”


“Jangan-jangan…. Jangan-jangan ini…”


“…Dia mau minta putus?!”


“Aku rasa iya, soalnya dia tiba-tiba perlu bicara sama aku…”


“Terus akhir-akhir ini dia juga selalu menghindari aku…”


“Apakah… hatinya berubah?”


DEG-DEG! Sia jadi tegang sendiri




“Tapi… aku nggak mau! Aku nggak mau begitu… aku… aku…!!”




“…Sia”

Jiho mulai berbicara
Sia pun memperhatikan.




“… kamu”




“…maukah menikah denganku?”






—– TO BE CONTINUED —-

SUMBER TEKS BERASAL DARI UNTOUCHABLE LINE WEBTOON BAHASA MANDARIN DAN KOREA. NARASI KAMI TAMBAHKAN SENDIRI UNTUK MEMPERMUDAH MEMBAYANGKAN TANPA MELIHAT GAMBARNYA. HASIL AKHIR PADA KOMIK BISA JADI ADA PERBEDAAN KARENA AKAN MENGALAMI PENYESUAIAN BEGITU VERSI INGGRISNYA KELUAR.

Check Also

Samsung Kembangkan Sensor Smartphone 576 Megapiksel pada 2025

Kepoin News – Setelah meluncurkan sensor smartphone ISOCELL HP1 200 megapiksel yang baru saja diluncurkan, …

Leave a Reply

Your email address will not be published.