Sneak Preview unTouchable Episode 105 Bahasa Indonesia








Untuk melihat gambar-gambarnya, kamu bisa buka langsung Episode 105 dari Naver Webtoon Korea di sini.

Belum baca teks terjemahan episode sebelumnya? Cek di sini.

Gambar tidak disertakan karena dibatasi kontrak dengan pengarang.

BACA JUGA UNTOUCHABLE BAHASA INDONESIA (VERSI SUDAH BERGAMBAR)
YANG TERSEDIA DI SINI

JANGAN MENERUSKAN JIKA TIDAK INGIN SPOILER.


Kode warna:
Sia = Hitam Tebal
Jiho = Oranye
Baryu = Kuning
Sihwan = Abu-Abu
Mr. Choi = Merah
Moran = Ungu
Figuran lain = Hijau, dll.
Italic/Miring = tidak diucapkan

Narasi:
italics, hitam biasa

—– START —-

Melanjutkan episode sebelumnya,

Mr. Choi membopong Sia menaiki tangga menuju apartemennya, tetapi di ujung tangga itu, berdirilah Jiho. Yang tercengang melihat mereka berdua.

“…Ah.”

“J, Jiho…”

“….kamu mau keluar ya?”
tanya Sia karena melihat Jiho membawa kantong plastik yang isinya penuh
“Ah… m, mau buang sampah ya?”


Jiho masih terdiam


“K, kamu jangan salah paham dulu, i… ini cuma…”


“gara-gara ada kejadian, jadi dia menolongku…”

“d… dia…”

Sia makin keringatan


“soalnya tadi ada sedikit kecelakaan di studio.”


Di lokasi pemotretan tadi ada peralatan yang tiba-tiba jatuh sewaktu kami merekam Sia, kakinya terluka.” Mr. Choi ikut membuka mulutnya.

Karena aku penanggungjawab di sana, dan karena aku merasa agak bahaya kalau Sia pulang sendirian, aku jadi mengantarnya ke sini. Cuma itu saja.Kata Mr. Choi sambil menurunkan Sia.



Aku harap, kamu tidak salah paham.


“Aku yakin kamu bukan tipe orang yang seperti itu.”



“…………………..”


Jiho hanya diam saja, dengan tatapan tidak suka.


unTouchable Episode 105
Sulit Dijelaskan

ADA WEBTOON ROMANCE FANTASY BARU LHO! 
JUDULNYA “SUPER SECRET!” KLIK DI SINI

Sisanya kuserahkan padamu, aku pergi dulu.” Kata Mr. Choi pada Jiho.


“Makasih sudah mengantar aku pulang, aku…”


Jagalah dirimu baik-baik. Dan berjuanglah.


” Dalam ‘hal apapun’ “

begitu pesan Mr. Choi pada Sia sambil berjalan pergi.
Sementara Sia hanya terdiam


lalu dia menolehkan kepalanya ke kanan

tempat di mana Jiho berdiri

dengan ekspresi tidak suka.

Keduanya sekarang berada di dalam apartemen Sia. Pergelangan kaki Sia yang terluka diberi obat semprot oleh Jiho.

Tetapi keduanya hanya saling diam. Sama-sama tidak ada ekpresi bahagia dari kedua wajah mereka.

“…ini benar-benar nggak enakkata Sia dalam hatinya.

“dia… marah ya?

“dari tadi Jiho sama sekali nggak bicara apa-apa…”

“bagaimana nih, caranya biar bisa mengubah suasana…?”


“Eh, iya, Jiho
Sia mulai membuka mulutnya

“Tadi bukannya kamu lagi mau buang sampah ya? Aku sampai lupa lho.”

“Kalau udah beres ngobatin kakiku, kita kerjain sama-sama yu-…”

“Tidak Usah”
jawab Jiho dengan mendadak.

“Ah… o-oke deh.
Sia menjawab dengan canggung.


“K, kalo gitu, besok saja yah! Besok aku pasti bantuin kamu!”


“…………………..”

Jiho terdiam, lalu berkata



“Kenapa kamu sama sekali tidak meneleponku?”


“Padahal kamu terluka seperti ini, juga tidak bisa pulang ke rumah… lalu kenapa sama sekali tidak memintaku menjemput kamu?”


“…Ah, i-itu, soalnya…”

“Aku nggak enak kalau gangguin kerjaanmu…”

“Lagian lukaku juga bukan luka yang berat kok.”

“Jadi aku nggak ingin bikin kamu khawatir…..”




“Tapi kamu dibopong naik ke sini oleh laki-laki lain, aku malah jadi khawatir.”





“Sudah beres, besok pergilah ke klinik.”

Kata Jiho sambil membereskan perlengkapan P3K nya.


“Ah, iya.. makasih…”



“Kalau kamu punya kantong es, kompres dulu lukamu sebelum tidur”




“……………..”

Sia hanya diam saja menatap Jiho dari belakang,


lalu dia teringat-ingat kata-kata Mr. Choi dari episode sebelumnya.

“Kalau masih ada yang tidak diungkapkan seperti itu, apa bisa disebut sepasang kekasih?”


“Menurutku, kenyataan kalau kamu itu vampir, juga harus diungkapkan pada dia, ya kan?”


“Sebelum itu terjadi, apa kalian benar-benar bisa dikatakan saling cinta?”



selesai mengingat-ingat, Sia memanggil Jiho



“A… anu… Jiho”


“S.. seandainya kalau aku bilang, aku ini punya sisi yang lain, menurutmu gimana?”


DEG! Jiho tersentak mendengarnya, seketika 

matanya 

terbelalak.



“Maksudku begini… seandainya… aku punya suatu rahasia yang belum kamu ketahui, atau…”



“seandainya aku bukan orang yang selama ini kamu pikirkan…”


“seandainya seperti itu, menurutmu gimana?”



DEG-DEG! DEG-DEG!

Sambil gugup, Jiho memberanikan diri bertanya.

“Kenapa?”


“…apa ada sesuatu yang belum pernah kamu katakan padaku?”



“B, b, bukan begitu…”


“Aku cuma bilang, seandainya saja…”


“M, maksudku…”


DEG-DEG!
Suara detak jantung Jiho.


“Sebenarnya, aku…”


DEG-DEG! DEG-DEG!
Makin kencang lagi.





“Sebenarnya, aku ini…”


DEG-DEG! DEG-DEG! DEG-DEG!
Makin kencang lagi,


lalu dia menyela

“…menurutku kita yang sekarang saja sudah baik-baik kok.”






“…Sia yang kulihat selama ini,

dan Sia yang kumengerti selama ini,

semuanya aku suka.”



“Jadi… jika ada satu sisi darimu yang belum kutahu…”



“…aku sulit mengatakannya.”


“Aku rasa aku juga tidak tahu harus berbuat bagaimana.”



“Ah… iya yah… sudah seharusnya seperti itu yah…”


“Maaf, seharusnya aku nggak tanya kamu pertanyaan yang aneh begini. Maafin ya.


“Baiklah, ini sudah malam, aku pulang dulu. Kamu istirahatlah baik-baik.”


“Iya, kamu juga ya….






Jiho pun keluar lalu menutup pintu apartemen Sia.

Masih berdiri di depan pintu itu, dia kepikiran kata-kata Sia tadi.



“S.. seandainya kalau aku bilang, aku ini punya sisi yang lain, menurutmu gimana?”




“seandainya… aku punya suatu rahasia yang belum kamu ketahui, atau…”


Setelah mengingat-ingat, sorot muka Jiho pun murung penuh pikiran.














Di suatu tempat, ada seorang perempuan berambut merah keunguan berbicara dengan seseorang di telepon. Dia adalah Moran yang rambutnya terurai, sedangkan di ujung telepon adalah ayahnya.



“Sebenarnya ada apa dengan Sia?”, tanya sang ayah.

“Ayah tidak usah terlalu memikirkan dia.” kata Moran pada ayahnya

“Tenanglah saja.”

“Aku bisa mengambil tindakan-tindakan yang tepat.”

“Tidak perlu menunggu lama-lama lagi, aku rasa mereka pasti akan putus.”





PIP.
Telepon dimatikan.





“Ya, aku yakin mereka pasti segera putus.”


“Orang yang pernah ditinggalkan…”


“Dia pasti akan takut merasa ditinggalkan lagi, jadi dia pasti akan menyerah dengan sendirinya…”


“Jika perasaannya pada pasangannya makin besar…”


“…dan makin menjaganya…”


“dia akan mudah digoyahkan, bahkan sebelum terjadi masalah besar…”


“Sia. Bagi kalian berdua, inilah jalan yang terbaik.”




tiba-tiba HP Moran berbunyi, dia pun mengambilnya,

ternyata ada seseorang yang menghubunginya,


sewaktu melihat ke layarnya, dia agak terkejut


yang menghubungi dia adalah Shin Jiho.


—– TO BE CONTINUED —-


SUMBER TEKS BERASAL DARI UNTOUCHABLE LINE WEBTOON BAHASA MANDARIN DAN KOREA. NARASI KAMI TAMBAHKAN SENDIRI UNTUK MEMPERMUDAH MEMBAYANGKAN TANPA MELIHAT GAMBARNYA. HASIL AKHIR PADA KOMIK BISA JADI ADA PERBEDAAN KARENA AKAN MENGALAMI PENYESUAIAN BEGITU VERSI INGGRISNYA KELUAR.

Check Also

Samsung Kembangkan Sensor Smartphone 576 Megapiksel pada 2025

Kepoin News – Setelah meluncurkan sensor smartphone ISOCELL HP1 200 megapiksel yang baru saja diluncurkan, …

Leave a Reply

Your email address will not be published.