Sneak Preview unTouchable Episode 104 Bahasa Indonesia








Untuk melihat gambar-gambarnya, kamu bisa buka langsung Episode 104 dari Naver Webtoon Korea di sini.

Belum baca teks terjemahan episode sebelumnya? Cek di sini.

Gambar tidak disertakan karena dibatasi kontrak dengan pengarang.

BACA JUGA UNTOUCHABLE BAHASA INDONESIA (VERSI SUDAH BERGAMBAR)
YANG TERSEDIA DI SINI

JANGAN MENERUSKAN JIKA TIDAK INGIN SPOILER.


Kode warna:
Sia = Hitam Tebal
Jiho = Oranye
Baryu = Kuning
Sihwan = Abu-Abu
Mr. Choi = Merah
Moran = Ungu
Figuran lain = Hijau, dll.
Italic/Miring = tidak diucapkan

Narasi:
italics, hitam biasa

—– START —-

Melanjutkan episode sebelumnya,

Sia kebingungan apa yang baru saja terjadi. Dia diselamatkan oleh Mr. Choi dari lampu studio yang jatuh ke arahnya. Mr. Choi pun sampai berdarah-darah melindungi dia.

“Kenapa bisa begini”, kata Sia dalam hati.
“…. apa yang sebenarnya terjadi?”


unTouchable Episode 104
Jalan Apapun Yang Kaupilih, Semua Sama Saja


“Sia!! Pak editor!! Kalian tidak apa-apa?”, tanya para staf lain di studio itu.
“Kalian luka nggak?”
“Duh, gimana nih? Apa perlu dipanggilkan dokter?”, kata teman kerja Sia yang ada di situ mengelap luka Mr. Choi.
Tidak apa-apa. Cuma luka lecet saja.” Jawab Mr. Choi.


“Sia, kalau kamu? Luka nggak?” 
“Ah… aku nggak apa-apa, aku baik-baik saja. Nggak luka kok…,
begitulah Jawab Sia

tetapi,

“Ah..! Aduh..!“,
ternyata pergelangan kaki Sia sakit.


“Aah, kakimu luka ya? Mungkin terkilir sewaktu kamu jatuh tadi.”

“Bisa berdiri nggak?”, kata teman Sia sambil membantunya berdiri.


“Nggak apa-apa kok, cuma emang agak sakit aja…

“Buat jaga-jaga aja agar nggak ada apa-apa, pemotretannya kita…”

“Nggak usah, ini nggak seberapa kok, kita terusin aja.

Baiklah, kalau begitu kita teruskan saja. Lagian yang tersisa tinggal pose duduk-duduk saja.Kata Mr. Choi sambil menutup darah yang keluar dari pelipisnya dengan kain.


“Tapi… pak editor…”


Bagi orang profesional, yang seperti ini bukan masalah besar, benar kan?

“Bersihkan saja tempat ini, lalu teruskan pemotretannya.”


“Ah… baik!!”

Pemotretan pun dilanjutkan









Cklik

Cklik

Sambil berpose, Sia dalam hatinya keheranan
Apaan sih… padahal biasanya dia selalu dingin terus kalau sama aku.”

“Kenapa tiba-tiba jadi ngenolongin aku? Aku benar-benar jadi bingung.”

“…Apa aku harus bilang terima kasih sama dia?”

“Aaah, rasanya nggak terima kalau bilang terima kasih sama dia nih…!!”, kata Sia dalam hati sambil memperhatikan Mr. Choi

“Tapi… yang barusan tadi benar-benar hampir saja celaka sih.”

“Dia menghindarkan aku dari bahaya dan membuat dirinya terluka…”

Pemotretan pun selesai.

“Terima kasih atas kerja kerasnya hari ini.”

“Sia, kamu tadi bener-bener kaget kan? Hari ini istirahat aja yang banyak di rumah ya. Kalau kecapekan, takutnya kakimu nggak kuat dipakai berdiri.” Kata teman Sia cemas.

“Nggak usah khawatir. Istirahat sehari aja paling-paling udah sembuh kok!”


“Kalau ‘gitu, hati-hati di jalan ya.”






DEG! Sia berada di luar studio, melihat Mr. Choi yang hendak memasuki mobilnya. Lalu dia menyapanya duluan…
“A… anu..”

Mr. Choi mendengarnya, lalu menoleh ke arah Sia.


“Tadi aku masih syok, jadi lupa bilang terimakasih sama kamu…”

“M, makasih. Makasih kamu sudah menolong aku…”


“Tidak perlu berterimakasih… seorang model tidak boleh sampai terluka, itu sebabnya aku menolongmu.”

“Aku tidak punya maksud yang lainnya, tidak perlu merasa harus berterimakasih padaku.”

“Aku cuma tidak ingin mengalami kerugian saja.”
Jawab Mr. Choi dengan senyum sinisnya.


“Tapi, karena permintaan maafmu sejujur itu, sepertinya kuterima saja deh” Ledek Mr. Choi.
Aku bilang makasih juga cuma karena nggak mau hutang budi aja sama kamu!!!” Teriak Sia.

“Ini orang nyebelin banget sih!!” imbuh Sia dalam hati.


“Oya, kamu tidak menghubungi kekasihmu dulu? Kakimu sakit kan? Sulit dipakai berjalan kan?” 

DEG! Sia tersentak mendengarnya.


“…ah”

“Mungkin sebaiknya aku menghubungi Jiho…”

“Tapi, dia masih menjauhi aku…”

“Kalau cuma gara-gara begini lalu menghubungi dia, rasanya agak nggak enak.”

Pikir Sia dalam hati, lalu dia menjawab Mr. Choi.


“…A, aku nggak apa-apa kok! Aku bisa pulang naik taxi aja!”

DEG! Mr. Choi agak kaget mendengarnya.


“Lagian aku juga bukan anak kecil lagi, kalau cuma luka segini sih…!”

“Naiklah!”



“Naiklah, kuantar kamu pulang.”


“Ng, nggak perlu! Aku bisa…”


“Buat apa masih jual mahal begitu! Kamu itu sudah benar-benar tidak kuat berjalan kaki lagi.”


……………….”,
Sia terdiam mendengarnya, kata-kata Mr. Choi ada benarnya, pergelangan kaki kiri Sia sampai berwarna merah karena lukanya.










Sia pun menaiki mobil Mr. Choi. Sewaktu perjalanan, Sia tidak nyaman.

“…Kok kayanya aku jadi hutang budi lagi sama dia, hehe”


“………..”


“Kamu tidak bisa menghubungi dia padahal kamu terluka seperti itu, sepertinya kalian benar-benar ada masalah.” kata Mr. Choi merujuk hubungan Sia dan Jiho. Sia kaget mendengarnya

“I, itu nggak bener! Ini cuma karena aku…

“…nggak mau dia sampai khawatir…!”


“Nggak ingin dia khawatir, jadi disembunyikan…?” 


“Kalau masih ada yang tidak diungkapkan seperti itu, memangnya bisa disebut sepasang kekasih?”


“Menurutku, kenyataan kalau kamu itu vampir, juga harus diungkapkan pada dia, ya kan?”


“Sebelum itu terjadi, apa yang seperti ini benar-benar bisa dikatakan cinta sejati?”


“Tapi, meskipun dia diberitahu, kurasa tidak akan ada efek baiknya.”


“A… apa maksudmu?”


“Hubungan kekasih antara manusia dan vampir itu pada dasarnya tidak mungkin akan berhasil.”


“Sampai titik akhir, demi memperoleh cinta, yang ada hanya pengorbanan saja”


“Hubungan yang seperti ini, takkan ada kebahagiaan, juga takkan ada kegembiraan”


“Seandainya dia tahu kalau kamu mendekati dia hanya sebagai makanan, apa kamu kira dia sudi menerima dan mengerti kamu?”


“Jadi, menyerah sajalah. Yang kamu lakukan ini cuma buang-buang waktu saja…” 

……………….”, Sia terdiam


lalu berkata
“….Kamu ini benar-benar aneh.”


“Tadi kamu bilang aku harus cepat-cepat perbaiki hubunganku sama dia, sekarang malah suruh aku menyerah?”


“Sebenarnya kamu ingin aku ini harus gimana sih?”

“Itu sulit dikatakan”


“Tapi, jalan apapun yang akan dipilih, semuanya sama saja.”

Mereka pun sampai di bawah gedung apartemen Sia.

“Makasih sudah dianterin pulang!!”

Sia turun dari mobil Mr. Choi dan berjalan dengan muka sebal.


“Bisa berjalan naik ke atas sendiri?”

Tanya Mr. Choi dengan senyuman sinisnya.

“Hmph!! Memangnya perlu ditanya? Luka juga cuman segini…”


“@$%md$&^%%^&**(!@&#!!!!!!!!!!!!”

belum selesai Sia menjawab tawaran sinis dari Mr Choi, kakinya sudah kesakitan. Dia sampai jongkok demi menahannya.


“Kamu harusnya berhati-hati, jangan jadi gila dulu.”


Lalu tiba-tiba JRENG!
Mr. Choi membopong Sia!


“Dasar kamu ini benar-benar suka bikin orang jadi khawatir.”


Sia terkejut sekali mengetahui dirinya dibopong Mr. Choi.


“A–Aaaah! Kamu mau ngapain? Turunin aku!!!”


“Aku cuma khawatir saja kalau masalah kecil ini nanti bisa membuatku gila gara-gara harus mengurusi bermacam-macam urusan tambahan.”

“Jangan gerak-gerak! Aku cuma membopongmu sampai ke depan pintumu saja”



“T, ta-tapi, tu-tu-tunggu…. Tunggu dulu…”

“Kalau seperti ini agak…”

Keduanya terhenti seketika.

Mr. Choi yang masih membopong Sia menaiki tangga ke atas, juga menghentikan langkahnya








di depan mereka berdirilah Jiho.



—– TO BE CONTINUED —-












SUMBER TEKS BERASAL DARI UNTOUCHABLE LINE WEBTOON BAHASA MANDARIN DAN KOREA. NARASI KAMI TAMBAHKAN SENDIRI UNTUK MEMPERMUDAH MEMBAYANGKAN TANPA MELIHAT GAMBARNYA. HASIL AKHIR PADA KOMIK BISA JADI ADA PERBEDAAN KARENA AKAN MENGALAMI PENYESUAIAN BEGITU VERSI INGGRISNYA KELUAR.

Check Also

Samsung Kembangkan Sensor Smartphone 576 Megapiksel pada 2025

Kepoin News – Setelah meluncurkan sensor smartphone ISOCELL HP1 200 megapiksel yang baru saja diluncurkan, …

Leave a Reply

Your email address will not be published.