Sneak Preview unTouchable Episode 102 Bahasa Indonesia








Untuk melihat gambar-gambarnya, kamu bisa buka langsung Episode 102 dari Naver Webtoon Korea di sini.

Belum baca teks terjemahan episode sebelumnya? Cek di sini.

Gambar tidak disertakan karena dibatasi kontrak dengan pengarang.

BACA JUGA UNTOUCHABLE BAHASA INDONESIA (VERSI SUDAH BERGAMBAR)
YANG TERSEDIA DI SINI

JANGAN MENERUSKAN JIKA TIDAK INGIN SPOILER.


Kode warna:
Sia = Hitam Tebal
Jiho = Oranye
Baryu = Kuning
Sihwan = Abu-Abu
Mr. Choi = Merah
Moran = Ungu
Figuran lain = Hijau, dll.
Italic/Miring = tidak diucapkan

Narasi:
italics, hitam biasa

—– START —-

Melanjutkan episode sebelumnya,


“Kenapa kamu ingin tidur denganku?” tanya Jiho


“Kenapa…ingin tidur…?“, Kata Sia 



“Itu sudah sewajarnya kan? Soalnya aku suka sama kamu!”

“Jadi aku ingin sekali lebih dekat sama kamu…”





“…apa cuma itu alasannya?”


“apa cuma karena suka padaku… lalu kamu ingin tidur denganku?”



“Kenapa begini? Memangnya harus ada alasan lainnya ya? Atau jangan-jangan aku harus ngomong yang romantis-romantis dulu?Kata Sia dalam hatinya















unTouchable Episode 102
Jika Sendirian















“Ah… s… soalnya aku suka kamu, jadi aku ingin peluk kamu…


“apa aku… perlu punya alasan yang lainnya?”


“Menurutku, karena aku sangat ingin tahu soal kamu.” 

“Jiho, kita ini sudah berbeda sejak awal mula kita ketemu. Kamu itu spesial buatku.”

“Jadi, aku ingin lebih mengerti kamu lagi, makanya aku sangat ingin tahu soal kamu.”


“Boleh dibilang, sejak awal aku sudah selalu menunggu-nunggu kamu”



“………………..

Jiho diam saja.


“Aku selalu menunggu-nunggu saatnya kita berdua menjadi satu…”


Baru saja selesai Sia berkata-kata, Jiho sudah mendorongnya menjauh.


“…Hm? Kamu kenapa, Jiho?”


“Maaf, Sia.”


“Soal ini… aku masih ingin memikirkannya dulu.”

“Hah? Kenapa tiba-tiba kamu jadi begini?”

“Apa aku ada salah omong?”


“Aku… aku merasa hubungan kita sudah sangat stabil. Jadi kurasa kita tidak perlu meyakinkan perasaan kita lagi dengan hubungan tubuh.”

Kata Jiho dengan wajah tanpa senyuman.

“Tidak perlu sampai berbuat begini, aku juga sudah suka kamu.”

“Kamu pasti juga berpikiran sama kan?”

“I, iya sih… tapi kan…”


“Jiho, pikirkanlah baik-baik.”


“Kita kan selalu bahagia, jadi seandainya jiwa dan tubuh kita menjadi satu, bukannya kita akan jadi lebih bahagia lagi?”


“Jiho, kamu pasti menginginkan aku juga kan?”

“Bagiku itu sama saja, pacaran seperti ini saja bagiku juga sudah cukup.”


“Hanya ada kamu di sisiku saja, itu sudah cukup.”


“Jadi, Sia, aku harap…”





“Kita bisa saling menghargai diri sendiri dulu.”



Meskipun merona malu, Sia sangat kecewa mendengarnya.




















Kemudian, di sebuah Bar, di meja bartender.

“Sebenarnya dia itu kenapa sih?!!!!!”


BRAK!! Sia meletakkan gelas bir jumbonya keras-keras ke meja.


“Sebenarnya masalahnya ada di mana sih???!!!!”


“Padahal dulu awal-awalnya dia yang ingin begituan duluan, sampai aku mau ditindih segala!!”


“Apa yang dia bilang waktu itu semuanya bohong??! Memangnya aku ini berubah jadi apaan sih?”



“Bukannya dulu dia bilang kalau dia masih perjaka?? Gandengan tangan saja nggak pernah.”

“Ya, aku memang demi bertahan hidup harus pegang-pegang cowok, dan aku maunya pegang-pegang dia. Memangnya apa salahnya sih?”



“Aku sendiri juga baru pertama kalinya pacaran!!!!”

Teriakan Sia membuat si bartender dan tamu pria botak di sebelahnya terkejut


“Pertama kali ciuman saja juga sama dia!!!!”


“Padahal aku sudah segitunya ingin ngelakuin itu sama dia, tapi dia malah nolak???!!!”


“Haha, nona tenang dulu dong…”

Kata bapak-bapak botak di sebelah Sia itu.



“Om! Kalau di situasi seperti ini, om berbuat apa?” Sia yang mulai mabuk, mendekati dan menanyai bapak-bapak botak itu, sampai sang bapak merona malu.



“Memangnya kalau yang cewek yang kepingin, cowok-cowok jadi langsung nggak suka ya?!!”


“Ah, kalau om sih, justru bersyukur…”

“Apalagi kalau ceweknya secantik nona ini, om malah…”

belum selesai bapak-bapak itu menjawab sambil malu-malu, Sia sudah menyela


“Tul kan?! Cowok yang wajar pasti berpikir begitu kan?!”


“Tapi kenapa…


“Kenapa Jiho…”


“…. Jiho malah…”

Sia pun lemas di hadapan bapak-bapak botak itu.

“Tidak perlu sampai luka hati begitu, di dunia ini kan banyak pria. Lupakan saja dia.”

“Sebenarnya om ini juga masih bujang… kita berdua sama-sama kesepian, jadi bagaimana kalau…”


Tangan bapak-bapak itu mendekat pundak Sia,




tapi belum sampai pundak Sia disentuhnya, Sia sudah berjalan pergi meminta bonnya



“Minta bill-nya!”



“N, nona, jika kita nanti berjumpa lagi, aku pasti akan…!!”


Sia tetap berjalan pergi tanpa peduli selesainya kata-kata sang bapak itu.



“Terima kasih, silakan datang kembali.”











Sia berjalan-jalan sendirian di kota sambil memikirkan banyak hal di benaknya.


“Selama ini aku kira aku lancar-lancar saja sama dia…”


“Selama ini aku kira kita ini sudah menjadi satu…”


“Kenapa sih… mau tidur sama orang yang disuka saja…

bisa sesusah ini?”


“Padahal aku ingin memberi semuanya buat Jiho…”


“Nggak peduli sebetapa pentingnya milikku itu…”



“… atau jangan-jangan, Jiho…”







“Sudah bosan sama aku?”







“Nggak ah! Nggak mungkin! Nggak boleh nethink!!”

Sia geleng-geleng kepala berusaha menghilangkan pikiran buruknya.


“Aku sama Jiho kan sudah stabil banget!!”

“Paling-paling gara-gara dia kecapekan habis kerja saja, terus dia jadi agak sensi”

“Iya! Benar! Aku sama dia nggak ada masalah apa-apa.”


“Aku cuma perlu bersabar lagi. Suatu hari nanti, Jiho pasti mau…”








Sementara itu di apartemennya, Jiho melihat bekal makan siang dari Sia.

Sambil teringat kata-kata Sia tadi:

“Soalnya aku sangat ingin tahu soal kamu.”

“Bisa dibilang, aku ini selalu menunggu-nunggu kamu.”

“Aku selalu menunggu bisa menjadi satu sama kamu, seperti ini…”






“….apa yang harus kulakukan?”

Kali ini Jiho lah yang berpikir keras dalam hatinya.





“Ya, pasti karena dia benar-benar ingin tahu, makanya dia coba-coba pacaran”

“Kalau nggak, memangnya ada alasan apalagi Sia mau pacaran sama hyung?”

“Sia itu orang yang suka pacaran sesukanya.”


Jiho teringat kata-kata Baryu







dan kata-kata Moran

“Di mata Sia, pacaran itu cuma sarana buat memudahkan dia menyentuh-nyentuh orang saja.”

“Kalau sampai terjadi hubungan badan… setelahnya, kalian pasti akan putus.”








“….aku benar-benar tidak tahu.”






“Apakah yang ditunjukkan Sia padaku…”






“Semuanya palsu…?”















“Tidak mungkin…”


“Tidak mungkin Sia menipuku…”


“Aku… dan dia…”

Jiho berusaha menjadi positif,


tetapi ada sisi negatif dari dirinya mempengaruhi pikirannya.

“…benar-benar bodoh sekali.”


“kenapa masih percaya terus sama dia, ha?”


“kamu itu cuma seperti manisan saja bagi dia. Kalau sudah tidur bersama, dia pasti akan memutus semua hubungan kalian.”


“Menyerahlah saja. Selama ini , setiap kali kamu mencoba percaya pada seseorang, akhirnya kamu justru malah dibuang”


“Pada akhirnya, yang pasti terluka adalah kamu”


“Mudah saja kan?”


“Tinggal jauhi saja dia.”



“Kembalilah seperti hidupmu yang sendirian lagi… maka semua bebanmu pasti hilang.”


“Luka hati, sakit hati, kekecewaan…”









“Cukup jadi sendirian lagi……”























—– TO BE CONTINUED —-











SUMBER TEKS BERASAL DARI UNTOUCHABLE LINE WEBTOON BAHASA MANDARIN DAN KOREA. NARASI KAMI TAMBAHKAN SENDIRI UNTUK MEMPERMUDAH MEMBAYANGKAN TANPA MELIHAT GAMBARNYA. HASIL AKHIR PADA KOMIK BISA JADI ADA PERBEDAAN KARENA AKAN MENGALAMI PENYESUAIAN BEGITU VERSI INGGRISNYA KELUAR.

Check Also

Samsung Kembangkan Sensor Smartphone 576 Megapiksel pada 2025

Kepoin News – Setelah meluncurkan sensor smartphone ISOCELL HP1 200 megapiksel yang baru saja diluncurkan, …

Leave a Reply

Your email address will not be published.